The Journeys — Kisah Perjalanan Para Pencerita

— Hal yang paling menarik dari perjalanan adalah menemukan.

Kisah Perjalanan Para Pencerita berisi 12 tulisan perjalanan dari 12 orang penulis yang memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari penulis komedi, penulis skenario, novelis, hingga yang memang berprofesi sebagai travel writer.

Latar belakang berbeda ini membuat kisah-kisah yang dihadirkan pun memiliki sudut pandang beragam; yang terasa manis, menyentuh, hingga membuat terbahak. Dari birunya laut Karimunjawa, gemerlap New York City, keriaan sebuah pasar pagi di Lucerne, sudut rumah sakit jiwa di Singapura, damainya Shuili, cantiknya Andalusia, warna-warni Senegal, cerita kepercayaan setempat di Soe, mencari parfum impian di Mekah, kisah sebotol sambel yang harus dibawa sampai Utrecht, upaya melipir ke Tel Aviv, hingga fakta tak disangka di balik free traveling.

Perjalanan adalah sebuah proses menemukan. ‘It’s better to travel well than to arrive,’ kata Buddha. Dan The Journeys mengajak siapa pun menemukan kisahnya sendiri. Sesederhana apa pun itu.

Memulai perjalanan dengan disuguhkan cerita dari Gama Harjono ‘Mengejar Mimpi, Kereta Pagi, dan Tapas Andalusia’, jujur ceritanya kurang melekat di benak saya, sedikit membosankan. Tutur kata yang mengagungkan negeri Andalusia secara egois itu tak mementingkan pembaca yang baru belajar menerka rupa benua Eropa, seperti saya *nyengir* Ingin langsung melompat saja rasanya ke cerita selanjutnya, tapi dengan telaten saya menyelesaikan ceritanya.

Semakin penasaran dengan kisah berikutnya, ‘A Morning Kiss Bye from A Stranger’nya Windi Ariestanty membuat saya juga terpukau dengan sebuah desa bernama Lucerne di Swiss. Berawal dari direction yang salah diberikan oleh resepsionis hotelnya membuat dia mendapatkan pengalaman-pengalaman seru disana. Mendapatkan salam perpisahan dari dua orang asing yang belum dikenalnya bukan membuat dia takut, tapi membuat dia senang dan heran. Karna masing-masing lambaian tersebut mempunyai ceritanya sendiri.

Lain lagi dengan Winna Efendi yang bercerita tentang ‘Dari Desa Kecil Bernama Air’, dia menceritakan pengalaman travelingnya ke Shuili bukan dengan berbentuk paragraf panjang lebar yang membosankan (bukan berarti yang lain berbentuk paragraf ceritanya membosankan yaa) tapi dia menceritakan kisah perjalanannya itu dalam bentuk isi email dia kepada pacarnya, yang paling saya suka di setiap akhir emailnya itu dia selalu memberi tanda/salam yang lucu-lucu sesuai dengan apa yang sedang dia lakukan.

Dokter spesialis mata Ferdiriva Hamzah pun punya kisahnya sendiri dengan perjalanannya ke Amerika bersama mertua. Perjalanan bersama sang mertua membuat dia merubah sedikit mindsetnya tentang traveling. Awalnya dia berkata bahwa traveling itu sebenarnya enak jika dilakukan bersama dengan orang yang asik, mengerti kita, nyambung dan gak ribet. Nah disaat dia mendapatkan waktu untuk traveling bersama sang mertua yang notabene dia sudah tahu bagaimana sifat dari sang mertua, awalnya dia pesimis mendapatkan perjalanan yang menyenangkan. Namun pada akhirnya kejadian-kejadian yang dia alami bersama mertuanya, membuat dia merubah sedikit mindset dia tentang traveling. Dia berkata — “Kadang kita berpikir, kalo jalan dengan orang yang kita anggap kurang cocok dengan kita, perjalanan kita jadi gak asyik. Tapi ternyata mungkin malah kitanya sendiri yang gak asyik. Berpikir bahwa mereka bakalan bikin kita bete, malah secara tak sadar, kita sendiri yang bikin mereka bete. Mungkin memang traveling yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang traveling itu sendiri. By thinking positively in every situation, you can enjoy the traveling itself, not fussing over whom you’re traveling with.”

Kisah perjalanan di buku ini ditutup oleh ceritanya Raditya Dika (udah pada tahu donk dia siapa, yap betul si ‘Kambing Jantan’, hehe). Kali ini saya lebih ke arah terharu membaca kisahnya. Walaupun masih dengan gaya menulisnya yang nyeleneh dan lucu, tapi kesan harunya pun tetap ada. Ada kalimat yang membuat saya ketika membacanya mengangguk-anggukan kepala tanda setuju, kurang lebih seperti ini — “Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orangtua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin dekat dengan orangtua. Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua kita. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua bakalan lebih dulu pergi dari kita. Mereka bakalan meninggalkan kita sendirian, dan kalau itu sudah terjadi sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali. Gue gak mau suatu malam, setelah nyokap gue pergi, gue melihat handphone dan berpikir seandainya gue bisa denger suara nyokap sekarang. Pada saat ini gue pengen setiap waktu yang dihabiskan, bisa gue habiskan dengan mendengar nyokap berkali-kali nelpon dan nanya ‘Kamu lagi apa?’. Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.” — Mewek saya bacanya *lap air mata pake tisu*

Intinya dari buku ini kesan yang bisa saya ambil traveling itu bukan hanya sekedar pergi ke suatu tempat lalu photo-photo (ya itu juga merupakan nafsu alamiah manusia yakni narsis sih, hehee), tapi apa yang bisa didapat, dicari dan dimaknai dari setiap perjalanan yang ditempuh. Karna hal yang paling menarik dari perjalanan adalah proses menemukan. Dari buku ini saya juga belajar itu, membaca dan menemukan cerita 🙂

Semoga bermanfaat resensinya..

Advertisements

Menatap Punggung Muhammad

”Apakah yang lebih besar daripada iman?”  Sebuah pertanyaan yang diucapkan sosok Muhammad dalam mimpi itu. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.

“Aku tak tahu”, kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat – aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya. Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau – tapi teduh. Sekali lagi ia tersenyum,..senyum itu membuatku lupa dengan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apa yang lebih besar daripada iman?” katanya mengulang pertanyaan pertamanya.

Seketika  langit hening.. bumi senyap. Dan lelaki itu melempar senyum sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku. Aku menatap punggung sosok itu yang semakin menjauh…terus menjauh. Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi..aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi  ia terus menjauh..menjelma sunyi..meninggalkanku.

Aku terbangun dengan dada yang berdebar, dengan perasaan yang begitu sedih. Muhammad, Muhammad, Muhammad.. aku mengulang-ulang nama itu. Mengapa ?

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-relakan Islam menjadi agama bagimu”.

Siapa yang tak berbahagia mendengarnya. Ini seperti sebuah kabar kemenangan. Tuhan telah merestui perjuangan kita dan menyatakan bahwa agama ini adalah agama yang sempurna. Bisa dipahami, ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Tapi.. kegembiraan itu justru tidak berlaku bagi sahabat terdekat Muhammad. Di tengah suasana kemenangan dan kebahagiaan itu.. di saat Haji Wada, perjalanan haji terakhir Muhammad – Abu Bakar justru menangis sedih dengan pundak yang berguncang. Air mata membanjiri tebing pipinya, sesekali suaranya tercekat pilu bagai menahan sesak di dadanya. Kenapa dengan Abu Bakar?

Ia menangis, menahan pilu di dadanya, sebab ia tahu bahwa di balik peristiwa itu…ia menyadari, tak berapa lama lagi Muhammad yang sangat ia cintai, akan meninggalkannya dan para sahabat yang lain. Ya, Sang Nabi telah usai melaksanakan tugasnya dan akan kembali ke haribaan Allah. Sebab telah sempurna agama yang telah Muhammad bawa, telah selesai tugas besar kenabiannya dan tidak akan ada lagi nabi yang akan menggantikannya.

Pelan-pelan.. Muhammad menghampiri Abu Bakar dan para sahabat,  mengatakan bahwa tak berapa lama ia memang akan pergi meninggalkan semuanya. Tangis Abu Bakar semakin menjadi dan berguncang hingga ke relung dada.. begitu pula dengan para sahabat. Sang Nabi perlahan melangkah pergi…ada cinta yang begitu kuat di hatinya, air matanya mengintip di sudut matanya, tetapi sekuat tenaga ia tahan, ia tak mau membuat para sahabatnya semakin bersedih – sesungguhnya ia juga tak ingin pergi. —

 

***

Selamat malam semua.. Postingan kali ini saya akan membahas sedikit tentang sebuah novel, “Menatap Punggung Muhammad” karya Fahd Djibran. Deretan paragraf diatas itu sebagian cuplikan novel tersebut.

Menatap Punggung Muhammad sesungguhnya adalah sebuah surat panjang yang ditulis seorang lelaki pada kekasihnya. Surat tersebut menceritakan kisah pencarian si lelaki dalam memecahkan makna pesan yang ia dapatkan dalam sebuah mimpinya bersama Muhammad Sang Nabi. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal luar biasa dari Muhammad. Fahd Djibran mendapatkan surat itu dari sahabatnya, si kekasih, kemudian menceritakan kembali kisah itu melalui novel ini. Buku ini akan memberikan cara pandang baru bagi pembaca, yang Muslim maupun non-Muslim, mengenai sosok Muhammad—baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.

Resensi buku ini semoga bermanfaat untuk menambah list buku yang ingin dibaca.