Meracau

Saya belajar percaya. Percaya pada apa yang kamu katakan. Percaya pada apa yang akan kamu berikan. Percaya pada semuanya.

Satu sisi lainnya, saya belajar untuk tidak dibodohi. Karena terkadang rasa dan akal sulit dipakai pada saat bersamaan.

Satu saja cukup. Setidaknya buat saya sih begitu.

Seperti Semua Terasa Tidak Masuk Akal

Seperti terbang saat semua yang lain menapakkan kaki.
Seperti geli yang membuncah dalam perut yang penuh dengan kupu-kupu.
Seperti senyum bayi mungil ketika asyik diterbang-terbangkan ke atas.
Seperti rasa kesal yang sebenarnya terasa manis karena larangan ini dan itu.
Seperti kamu yang datang tiba-tiba.
Seperti kamu yang bisa membuat luka.
Seperti saya yang takut merasa.
Tapi bahagia.
Jalani saja.
Awas jatuh.

Percayakah?

Kamu itu seperti sedang memegang pistol yang tepat mengarahkannya ke jantung saya. Saya percayakan kamu memegangnya sekaligus mengarahkannya tepat ke jantung saya. Ketika semua rasa hilang maka kamu bersiap menarik pelatuknya, lalu memporak-porandakan semua yang mengalir dari jantung tentang kamu.

Percayakah saya dengan kamu?

Sehat

Akhir-akhir ini cuaca memang lagi gak nentu. Panas banget di siang hari, terus hujan gede pake banget di malam hari. Cuaca kaya gini rentan, rentan dengan penyakit. Kalau gak bener-bener ngejaga imun tubuh walhasil badan bisa drop.

Musim-musim kaya gini yang harusnya gak diremehin, kan gamau juga kalau sakit. Apalagi kalau kerjaan lagi banyak-banyaknya, wah harus ekstra jaga kondisi. Di kerjaan yang sekarang juga seakan beberapa hal-hal remeh tapi berat yang banyak ngehandle juga saya. Punya partner sih, tapi ya kan tahu sendiri kalau partnernya senior.. Hal-hal sepele tapi berat ya yang ngerjain yang junior. Gapapa deh, yang penting sayanya sehat dan fit.

Jadi, harus pinter-pinter jaga kondisi. Asupan vitamin juga gak lupa. Sehat sehat sehat!! Semangat!